Kadang Tuhan memang memiliki caraNya tersendiri untuk membuat manusia mengerti lebih baik tentang dirinya, caraNya tersendiri untuk menggerakan hati manusia, caraNya tersendiri untuk mengubah haluan hidup setiap individu.
Kadang pula, semua yang semula kita pikir bisa membuat kita bahagia, ternyata pada akhirnya tidak membawa kita kemanapun selain keraguan tentang pilihan-pilihan yang telah kita jalani.
Tidak ada yg bisa berkata kepada kita, bagaimana cara untuk hidup bahagia. Dan tidak ada juga yang berhak berkata kepada kita, bagaimana cara meraih setiap kebahagiaan yang ingin kita miliki.
Tolak ukur manusia kadang diukur dengan satu kekuatan yang bernama WAKTU. Ia berdetak, ia berjalan, dan tidak ada yg mengetahui kapan batasan itu ada. Hanya satu yang pasti, waktu tidak berhenti berjalan.
“Terlalu lama”. “Terlalu cepat”. “Sudah waktunya”.
Kadang manusia hanya berkejaran dengan waktu, hanya demi mengejar hari-hari terbaik dalam hidupnya yang mereka pikir bisa membuat mereka suatu hari bahagia. Banyak waktu dimana manusia kehilangan arah, tapi mereka terus berjalan dan berjalan dan berjalan – demi tidak menyia-nyiakan waktu yang ada untuk mengakselerasi suatu cita-cita.
Dua puluh delapan dan ingin belok arah. Saya pikir saya gila. Ternyata saya mengakselerasi hidup saya lebih dari orang lain. Lagi, saya pikir saya gila. Ternyata tidak, saya tepat waktu. Saya masih punya waktu untuk membenahi semuanya, saya masih punya kesempatan -walaupun sangat sedikit sekali- untuk memperbaiki semuanya.
Dua puluh delapan dan masih ingin belok arah. Tidak, kali ini saya mantap atau saya akan menyesal seumur hidup saya. Dan tidak, saya tidak gila.
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah mengakselerasi hidup saya sedemikian rupa, untuk memberikan kesempatan dalam mengambil pilihan-pilihan lain dalam hidup saya.
Dan kamu, yang biasa saya sebut sebagai “waktu”, andai saja kamu bisa diam sejenak untuk memberikan saya ruang untuk hening.