2 Februari 2012

Papa.. Mama..

Hari ini saya sudah memberikan 3/4 hutang saya kepada kalian. Membutuhkan waktu 9 tahun untuk merampungkan semua ini. Dan semua ini tentunya tidak akan pernah terwujud tanpa ridha Allah dan doa kalian.

Untuk semua yang pernah menjadi saksi hidup dan saksi bisu perjalanan hidup saya, saya sangat berterima kasih untuk semua jenis dukungan, baik mental maupun finansial. 9 tahun bukan waktu yang sebentar..

Satu langkah lagi untuk merampungkan semuanya. Satu langkah lagi.

Rindu

Dan ketika balasan-balasan sms-nya menguatkan saya dan membuat air mata ini jatuh karena lemah dan lelah, hanya ingin bersandar di bahu mereka dan mendengar bahwa semua akan baik-baik saja dan saya pasti mampu melalui rintangan-rintangan yang sedang saya hadapi..

Dan ketika mereka sungguh tak tergantikan.

I miss you, Mom… I miss you, Dad…

Iri karena kesuksesan seseorang?

Jika kamu iri dengan kesuksesan seseorang, coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebelum keirianmu akan sesuatu mengakar hingga ke pembuluh nadi..

Dalam mencapai semua goal-goal yg telah kamu ciptakan dan sederet cita-cita yang kamu impikan,

- apa yang sudah kamu kerjakan dan apa yang orang sukses sudah kerjakan?

- apa yang tidak kamu kerjakan, yang orang sukses sudah kerjakan untuk membuat diri mereka sukses?

- apakah menurutmu kerja kerasmu sudah sebanding dengan hasil yang nantinya akan kau peroleh?

- jika iya dan kamu masih belum mendapatkan bentuk kesuksesan yg kamu cari, pastikan lagi. apa betul sebanding?

- apa yang orang sukses harus lakukan di malam-malam dimana kau tidur nyenyak dan hari-hari dimana kamu bisa tertawa lepas dan hidup dalam dunia boros dan hedonisme? Continue reading

Waktu, akselerator terbaik?

Kadang Tuhan memang memiliki caraNya tersendiri untuk membuat manusia mengerti lebih baik tentang dirinya, caraNya tersendiri untuk menggerakan hati manusia, caraNya tersendiri untuk mengubah haluan hidup setiap individu.

Kadang pula, semua yang semula kita pikir bisa membuat kita bahagia, ternyata pada akhirnya tidak membawa kita kemanapun selain keraguan tentang pilihan-pilihan yang telah kita jalani.

Tidak ada yg bisa berkata kepada kita, bagaimana cara untuk hidup bahagia. Dan tidak ada juga yang berhak berkata kepada kita, bagaimana cara meraih setiap kebahagiaan yang ingin kita miliki.

Tolak ukur manusia kadang diukur dengan satu kekuatan yang bernama WAKTU. Ia berdetak, ia berjalan, dan tidak ada yg mengetahui kapan batasan itu ada. Hanya satu yang pasti, waktu tidak berhenti berjalan.

“Terlalu lama”. “Terlalu cepat”. “Sudah waktunya”.

Kadang manusia hanya berkejaran dengan waktu, hanya demi mengejar hari-hari terbaik dalam hidupnya yang mereka pikir bisa membuat mereka suatu hari bahagia. Banyak waktu dimana manusia kehilangan arah, tapi mereka terus berjalan dan berjalan dan berjalan – demi tidak menyia-nyiakan waktu yang ada untuk mengakselerasi suatu cita-cita.

Dua puluh delapan dan ingin belok arah. Saya pikir saya gila. Ternyata saya mengakselerasi hidup saya lebih dari orang lain. Lagi, saya pikir saya gila. Ternyata tidak, saya tepat waktu. Saya masih punya waktu untuk membenahi semuanya, saya masih punya kesempatan -walaupun sangat sedikit sekali- untuk memperbaiki semuanya.

Dua puluh delapan dan masih ingin belok arah. Tidak, kali ini saya mantap atau saya akan menyesal seumur hidup saya. Dan tidak, saya tidak gila.

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah mengakselerasi hidup saya sedemikian rupa, untuk memberikan kesempatan dalam mengambil pilihan-pilihan lain dalam hidup saya.

Dan kamu, yang biasa saya sebut sebagai “waktu”, andai saja kamu bisa diam sejenak untuk memberikan saya ruang untuk hening.

No Autobiography

Pikiran ini terus melayang dalam pikiran saya beberapa bulan terakhir ini, setelah mantap meng-shut down-kan blog lama saya. Saya mulai mencoba hidup tanpa ngeblog, tidak seperti yg saya lakukan dalam beberapa tahun sebelumnya. Well, I finally kind of use to it.

Anyway, akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak menerbitkan buku sepuluh tahun hidup saya di negara rantauan ini, walaupun beberapa teman baik (termasuk calon pasangan hidup semati saya) encourage untuk tetap menerbitkan kisah hidup saya di luar negeri. Kisah hidup seorang anak perempuan yg merantau dengan sebulat tekad dan perjuangan untuk menggapai cita-citanya, bagaimana asam garam kehidupan mengajarkan dia untuk lebih bijak dan mengerti lebih dalam mengenai hidup dan aksesorisnya.

Saya yakin ada beberapa pejuang seperti saya di negara rantau ini dan sayangnya mereka gak banyak tercover oleh spotlight kehidupan. Saya pun cukup yakin, cerita hidup saya bisa mempresentasikan kehidupan “kami”, para perantau-perantau kehidupan yang jauh dari tanah air, untuk membuka mata manusia-manusia yg kurang bersyukur akan hidupnya dan untuk membesarkan hati para pejuang-pejuang yang masih berada di garis start maupun sedang bertahan di garis depan. Continue reading

#Cogitation

Percaya dan berpegang teguh pada mimpi dan keyakinan kita perlu. Tapi untuk pada akhirnya bisa merasakan mimpi-mimpi itu, kita harus bekerja keras. Entah dengan membalikkan kepala jadi kaki atau kaki jadi kepala, kita harus tetap bergerak dan berjalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Untuk bisa bernafas aja, kita harus usaha buat menghirup udara.
Jadi, gak ada yg gratis kan di dunia ini?

#Cogitation

For some people, studying abroad is a matter of curriculum vitae and some holidays to catch up. For some other people, studying abroad is really a deal of a lifetime. The deal of struggling, surviving and fighting for your rights as foreigner. All those deals have to be overcome, for someday to live their dreams of a better future and a better knowledge.

I wish people could finally wise enough to understand that studying abroad is not always the matter of social status. It is a deal of a lifetime.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.